Laman

Minggu, 27 November 2011

KISAH ISLAMI

TUKANG CUKUR BERBICARA
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Allah itu ada".

"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

... "Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan... untuk
menyadari bahwa Allah itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Allah itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Allah ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Allah Yang Maha Penyayang akan
membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena
dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi
meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada
orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, gimbal, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu,
sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."

Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

"Tidak!" elak si konsumen.
"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang
dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang diluar sana ", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.
" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa
mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui. "Itulah point utama-nya!. Sama dengan Allah, ALLAH ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!

 

Hanya Sebuah Koin Penyok Yang Kutemukan Tadi Pagi

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Sebaliknya, sewajarnya kita bersyukur atas segala karunia hidup yang telah Tuhan berikan pada kita, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.
(IslamMuda.com)



Rasulullah SAW dengan sebiji limau.

"Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Cantik sungguh buahnya.Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum. Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Sahabat-sahabat agak hairan dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan "Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam semasa saya merasainya kali pertama. Kiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengenyetkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab tu saya habiskan semuanya." Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak akan memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermain-mainkan Rasulullah SAW dan para sahabat baginda dengan hadiah limau masam itu. Malangnya tidak berjaya. Rancangannya di'tewas'kan oleh akhlak mulia Rasulullah SAW.

INFO UMMAT

Rekan rekan sekalian, setelah sempat vakum dikarenakan hal – hal urgen yang tidak bisa dihindari dan harus diselesaikan, akhirnya UMMAT kembali menunjukkan eksistensinya, sekitar pertengahan Februari 2010 lalu UMMAT melakukan terobosan dengan mengadakan MUBES-nya  yang pertama untuk memilih ketua umum UMMAT periode 2010-2011, dan tepatnya tanggal 20 Februari 2010 disahkannya  nama-mana susunan kepengurusan UMMAT periode 2010-2011. Pemimpin baru, harapan baru dan kehidupan baru...tiada berarti dan terwujud tanpa dukungan seluruh mahasiswa muslim matematika Unimed. Kami sangat berharap pada masa priode kami, seluruh kawan-kawan dapat memberikan dukungan dan kerjasamanya agar seluruh program UMMAT dapat terealisasi dengan baik dan lancar. Amiin.
UMMAT adalah sebuah kapal  yang didalamnya menampung seluruh mahasiswa muslim matematika UNIMED ini dikomandoi oleh seorang nakhoda yang bernama Nurwahyudi Saytawan(Ekst.07). Dengan meyakini bahwa Islam adalah rahmat sekalian alam dan tujuan itu dapat dicapai dengan taufik dan hidayah Allah SWT serta usaha-usaha yang teratur, terencana, dan penuh kebijaksanaan, serta ketepatan yang terorganisir.
UMMAT adalah Ukhuwah Mahasiswa Muslim Matematika (eskternal) yang didirikan sejak tahun 1997 di UNIMED, merupakan sebuah gerakan terorganisir, terbuka dan independen sebagai wadah pemersatu agar terus terjadi perubahan yang dinamis dan tejadi sinergi dengan apa yang menyusunnnya. Wadah tersebut tentunya merupakan sesuatu yang terorganisir dan terbina dengan baik, serta mampu mengayomi dan meningkatkan kualitas mahasiswa muslim matematika UNIMED. Terbentuknya insan yang tercerahkan, intelektual, professional, proporsional, yang islami serta mampu mengaplikasikan prinsip dan konsep serta nilai matematis dalam bingkai ukhuwah islamiyah yang bermanfaat bagi alam semesta.Tercerahkan berarti agar kita dapat membuka wacana berfikir seluas-luasnya, meluruskan kesalahan-kesalahan berfikir yang sering kali terjadi, dan tidak ekslusif dengan beranggapan bahwa hanya kita yang berhak masuk surga sedangkan orang lain tidak, sebab hal ini yang mendorong kita mudah menghakimi orang lain bahkan dengan suara lantang kita berani mengatakan orang lain sesat, kafir, murtad dan sebagainya, padahal jika hal itu tidak terbukti berarti kita sudah menyebarkan fitnah yang keji. Demikianlah paradigma baru yang dibawa oleh sang “Nakhoda” kapal UMMAT bersama seluruh tim nya, siapakah tim nya ??? timnya adalah seluruh mahasiswa muslim matematika UNIMED, ya.. kita semua…. Yang menjadi penekanan keras adalah bahwa UMMAT bukan milik perorangan, bukan milik sekelompok orang, bukan milik organisasi lain. Tapi UMMAT adalah UMMAT sebuah wadah yang netral berwarna bening yang mana didalamnya terdapat berbagai macam warna dan corak organisasi, ada KMI, HMI, KAMMI, IMM, BTM3, dll. Namun UMMAT tidak akan pernah terkontaminasi ataupun berubah warna. UMMAT akan tetap bening sebening embun di pagi hari yang menyejukkan semua anggotanya.
Namun itu semua tidak terlepas dari dukungan dan peran aktif saudaraku sekalian mahasiswa muslim matematika UNIMED, sehingga mari bersama- sama kita berdayakan UMMAT seoptimal mungkin dengan mengikuti dan berpartisipasi dalam setiap agenda kegiatan yang diselenggarakan UMMAT. Salam Revolusi Kesadaran.
                                      (Nurwahyudi Satyawan)

KHAZANAH ISLAM

Al-Khawarizmi: Penemu Bilangan Nol

Matematikawan muslim yang dijuluki “Bapak Algoritma.” Juga ahli musik, astronomi dan geografi. Karyanya menjadi rujukan dunia hingga kini.

K
ita pasti sudah sering mendengar istilah algoritma. Tapi, tahukah siapa penemunya? Bisa jadi kita menduga orang tersebut dari dunia Barat. Padahal, ia adalah seorang ilmuwan muslim yang bernama Al Khawarizmi. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Lahir di Khawarizmi, Uzbeikistan, pada 194 H/780 M. Kepandaian dan kecerdasannya mengantarkannya masuk ke lingkungan Dar al-Hukama (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, seorang khalifah Abbasiyah yang terkenal.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, algoritma berarti prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas. Nama itu berasal dari nama julukan al-Khawarizmi. Karya Aljabarnya yang paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan). Dalam buku itu diuraikan pengertian-pengertian geometris. Ia juga menyumbangkan teorema segitiga sama kaki yang tepat, perhitungan tinggi serta luas segitiga, dan luas jajaran genjang serta lingkaran. Dengan demikian, dalam beberapa hal al-Khawarizmi telah membuat aljabar menjadi ilmu eksak.
Buku itu diterjemahkan di London pada 1831 oleh F. Rosen, seorang matematikawan Inggris. Kemudian diedit ke dalam bahasa Arab oleh Ali Mustafa Musyarrafa dan Muhammad Mursi Ahmad, ahli matematika Mesir, pada 1939.
Sebagian dari karya al-Khawarizmi itu pada abad ke-12 juga diterjemahkan oleh Robert, matematikawan dari Chester, Inggris, dengan judul Liber Algebras et Al-mucabola (Buku Aljabar dan Perbandingan), yang kemudian diedit oleh L.C. Karpinski, seorang matematikawan dari New York, Amerika Serikat. Gerard dari Cremona (1114–1187) seorang matematikawan Italia, membuat versi kedua dari buku Liber Algebras dengan judul De Jebra et Almucabola (Aljabar dan Perbandingan). Buku versi Gerard ini lebih baik dan bahkan mengungguli buku F. Rozen.
Dalam bukunya, al-Khawarizmi memperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan angka 0 (nol) yang dalam bahasa Arab disebut sifr. Sebelum al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan mempergunakan abakus, semacam daftar yang menunjukkan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya, untuk menjaga agar setiap angka tidak saling tertukar dari tempat yang telah ditentukan dalam hitungan.
Akan tetapi, hitungan seperti itu tidak mendapat sambutan dari kalangan ilmuwan Barat ketika itu, dan mereka lebih tertarik untuk mempergunakan raqam al-binji (daftar angka Arab, termasuk angka nol), hasil penemuan al-Khawarizmi. Dengan demikian, angka nol baru dikenal dan dipergunakan orang Barat sekitar 250 tahun setelah ditemukan al-Khawarizmi. Dari beberapa bukunya, al-Khawarizmi mewariskan beberapa istilah matematika yang masih banyak dipergunakan hingga kini. Seperti sinus, kosinus, tangen dan kotangen.
Karya-karya al-Khawarizmi di bidang matematika sebenarnya banyak mengacu pada tulisan mengenai aljabar yang disusun oleh Diophantus (250 SM) dari Yunani. Namun, dalam meneliti buku-buku aljabar tersebut, al-Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih kabur. Kesalahan dan permasalahan itu diperbaiki, dijelaskan, dan dikembangkan oleh al-Khawarizmi dalam karya-karya aljabarnya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila ia dijuluki ”Bapak Aljabar”. Bahkan, menurut Gandz, matematikawan Barat dalam bukunya The Source of al-Khawarizmi’s Algebra, al-Khawarizmi lebih berhak mendapat julukan “Bapak Aljabar” dibandingkan dengan Diophantus, karena dialah orang pertama yang mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkannya dalam hal-hal yang berkaitan dengannya.
Di bidang ilmu ukur, al-Khawarizmi juga dikenal sebagai peletak rumus ilmu ukur dan penyusun daftar logaritma serta hitungan desimal. Namun, beberapa sarjana matematika Barat, seperti John Napier (1550–1617) dan Simon Stevin (1548–1620), menganggap penemuan itu merupakan hasil pemikiran mereka.
Selain matematika, Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai astronom. Di bawah Khalifah Ma’mun, sebuah tim astronom yang dipimpinnya berhasil menentukan ukuran dan bentuk bundaran bumi. Penelitian itu dilakukan di Sanjar dan Palmyra. Hasilnya hanya selisih 2,877 kaki dari ukuran garis tengah bumi yang sebenarnya. Sebuah perhitungan luar biasa yang dapat dilakukan pada saat itu. Al-Khawarizmi juga menyusun buku tentang penghitungan waktu berdasarkan bayang-bayang matahari. Buku astronominya yang mahsyur adalah Kitab Surah al-Ard (Buku Gambaran Bumi). Buku itu memuat daftar koordinat beberapa kota penting dan ciri-ciri geografisnya. Kitab itu secara tidak langsung mengacu pada buku Geography yang disusun oleh Claudius Ptolomaeus (100–178), ilmuwan Yunani. Namun beberapa kesalahan dalam buku tersebut  dikoreksi dan dibetulkan oleh al-Khawarizmi dalam bukunya Zij as-Sindhind sebelum ia menyusun Kitab  Surah al-Ard.
Selain ahli di bidang matematika, astronomi, dan geografi, Al-Khawarizmi juga seorang ahli seni musik. Dalam salah satu buku matematikanya, ia menuliskan pula teori seni musik. Pengaruh buku itu sampai ke Eropa dan dianggap sebagai perkenalan musik Arab ke dunia Latin. Dengan meninggalkan karya-karya besarnya sebagai ilmuwan terkemuka dan terbesar pada zamannya, Al-Khawarizmi meninggal pada 262 H/846 M di Baghdad. Setelah al-Khawarizmi meninggal, keberadaan karyanya beralih kepada komunitas Islam. Yaitu, bagaimana cara menjabarkan bilangan dalam sebuah metode perhitungan, termasuk dalam bilangan pecahan; suatu penghitungan Aljabar yang merupakan warisan untuk menyelesaikan persoalan perhitungan dan rumusan yang lebih akurat dari yang pernah ada sebelumnya.
Di dunia Barat, Ilmu Matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya al-Khawarizmi dibanding karya para penulis pada Abad Pertengahan. Masyarakat modern saat ini berutang budi kepada al-Khawarizmi dalam hal penggunaan bilangan Arab. Notasi penempatan bilangan dengan basis 10, penggunaan bilangan irasional dan diperkenalkannya konsep Aljabar modern, membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang Matematika dan revolusi perhitungan di Abad Pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan Matematika Yunani, Hindu dan mungkin Babilonia, teks Aljabar merupakan salah satu karya Islam  di dunia Internasional.
(Erwyn Kurniawan, dari berbagai sumber) http://www.esqmagazine.com.

H U M O R S U F I


Nasrudin dan Ali merasa haus, mereka pergi ke sebuah warung untuk minum. Karena uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas susu maka Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk berdua.
Ali : “kamu minum dulu setengah gelas,Karena aku hanya punya gula yang hanya cukup untuk satu orang. Aku akan menuangkan gula ini ke dalam susu bagianku.”
Nasrudin : “Tuangkan saja sekarang dan aku akan minum setengahnya.”
Ali : “Aku tidak mau. Sudah kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu”
akhirnya Nasrudin pergi ke pemilik warung dan kembali dengan sekantung garam.
Nasrudin : “Ada berita baik. Seperti telah kita setujui, aku akan minum susu ini lebih dulu dan Aku akan minum bagianku dengan garam ini.”
Ali : “apa….?”




Nasruddin pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Nashruddin kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung.”
Nashruddin menjawab, “Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres.”
Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter.Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa orang lain.

Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di ranjang, katanya, “Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah datang juga.” “Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”

“Begini Tuan!” jawab Nashruddin, “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan.”

Sabtu, 09 Juli 2011

BULETIN UMMAT

 



 





BULETIN UMMAT        Edisi I Thn. I - April 2010

SHALAT YANG DITERIMA TUHAN
Oleh: Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat

S
aya akan memulai pembahasan ini dengan hadis-hadis Rasulullah saw. Yang ada hubunganya dengan salat dan ada pula hubungannya dengan kemasyarakatan. Dalam sebuah hadis, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda: “Akan datang suatu zaman, orang-orangnya berkumpul di masjid berjamaah tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mukmin.”Dalam hadis lain, yang dimuat didalam kitab Kanzul ‘Ummal, Rasulullah saw. Juga bersabda: “ nanti akan datang suatu zaman; seorang muazin berazan, kemudian orang-orang menegakkan shalat, tetapi diantara mereka tidak ada yang mukmin”.(hadis no.3110)
Sabda-sabda Rasulullah yang mulia di atas menarik bagi kita karena ada sekelompok orang berjamaah melakukan salat tetapi tak ada seorangpun di antara mereka yang mukmin.Pada gilirannya muncul sebuah pertanyaan di benak kita, “mengapa salat yang mereka lakukan tidak di anggap sebagai tanda seorang yang mukmin? Dan mengapa orang yang salat di masjid itu tidak dihitung sebagai orang yang mukmin?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menunjukan tanda-tanda orang mukmin itu. Salat bukanlah tanda bahwa seseorang dianggap mukmin, tetapi salat merupakan tanda bahwa dia sebagai orang muslim. Oleh karena itu, tanda seorang mukmin ialah salat ditambah dengan yang lain-lain.
Saya ingin menyebutkan karakteristik orang mukmin yang dimuat dalam Shahih Bukhari, bahwa Rasulullah yang mulia bersabda:
1. Barangsiapa yang beriman (mukmin) kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia menghormati tetangganya.
2. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia senang menyambungkan tali persaudaraan. 
3. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya dia berbicara yang benar, dan kalau tidak mampu bicara dengan baik, maka lebih baik ia berdiam diri. 
4. Tidak dianggap sebagai orang beriman, apabila kamu tidur dalam keadaan kenyang sementara para tetangga kamu kelaparan di samping kamu.
Dengan hanya mengambil empat buah hadis itu anda melihat bahwa tanda seorang mukmin itu terlihat dari tanggung jawabnya di tengah-tengah masyarakatnya. Kalau dia menghormati tetangganya, kalau dia menyambungkan tali persaudaraan, dan kalau dia berbicara benar atau memiliki keprihatinan di antara penderitaan  yang dirasakan oleh saudara di sekitarnya, maka baru boleh dikatakan bahwa dia adalah seorang mukmin.
Jadi, dengan kata lain, Rasulullah saw. Menyebutkan bahwa nanti akan datang suatu zaman yang orang-orangnya berkumpul di masjid untuk mendirikan salat tetapi tidak akur dengan tetangganya, yaitu tidak menyambungkan tali persaudaraan di antara kaum muslim. Dia menyebarkan fitnah dan tuduhan yang tidak layak terhadap kaum muslim. Mereka melaksanakn salat tetepi tidak sanggup mengatakan kalimat yang benar. Mereka melakukan salat tetapi acuh tak acuh dengan penderitaan yang dirasakan sesamanya. Kata Rasulullah, mereka adalah orang-orang yang melakukan salat, akan tetapi tidak diterima salatnya. Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “ada dua orang umatku melakukan salat, yang rukuk dan sujudnya sama, akan tetapi nilai salat kedua orang itu jauhnya antara langit dan bumi.”?. Dalam hadis qudsi, juga disebutkan tentang orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT: Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hanya akan menerima salat dari orang yang dengan salatnya ia merendahkan diri ke hadapan-Ku. Ia tidak sombong dengan makhluk-ku yang lain. Ia tidak mengulangi maksiat kepada-ku. Ia menyayangi orang-orang yang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup salat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh malaikat untuk menjaganya; orang itu akan memperkenankanya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.
Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa tanda-tanda orang yang diterima salatnya oleh Allah SWT. Pertama, dia datang untuk melaksanakan salat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Dalam al-Quran, keadaan seperti itu disebut dengan istilah khusyu’. Dan salat yang khusyu’ adalah salah satu tanda orang yang mukmin. Yang disebut dengan salat khusyu’ itu bukan yang tidak ingat apa pun. Karena yang tidak apapun itu disebut pingsan
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bi Abi Thalib k.w. kalau beliau hendak melakukan salat tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Sehingga ketika ada orang yang bertanya kepadanya,”mengapa anda ya amirul mukminin?”, Sayyidina Ali menjawab,”engkau tidak tahu bahwa sebentar lagi aku akan menghadapi waktu amanah.” Kemudian sayyidina Ali membacakan sebuat ayat Al-Qur’an: Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh menusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS 33;72). Kemudian sayyidina Ali melanjutkan ucapannya, “salat adalah suatu amanat Allah yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan bukit untuk memikulnya, tetapi mereka menolaknya dan hanya manusia yang sanggup memikulnya. Memikul amanat mengabdi kepada-Nya.
Kedua, dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Jadi, anda orang yang diterima salatnya ialah tidak takabur. Takabur, menurut Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar dari pada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi karena ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak-buah dan kecantikannya. Kalau anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka anda sudah takabur. Dan salat anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain, disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda: ”tidak akan masuk surga seseorang yang didalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja”. Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur menghinggapi para aktivis masjid atau akitvis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan menganggap dirinya yang paling benar.
Ketiga, tanda orang yang diterima salatnya ialah orang yang tidak mengulangi maksiatnya kepada Allah SWT. Nabi yang mulia bersabda: “barangsiapa yang salatnya tidak mencegahnya dari kejelekan dan kemungkaran, maka salatnya hanya akan menjauhkan dirinya dari Allah SWT.”Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. Mengatakan: “nanti pada hari kiamat ada orang yang membawa salatnya di hadapan Allah. Kemudian salatnya diterima dan dilipa-lipat seperti dilipat-lipatnya pakaian yang kotor dan usang. Lalu salat itu dibantingkan ke wajahnya”. Allah tidak menerima salat itu karena salatnya tidak dapat mencegah perbuatan maksitnya setelah ia melakukan maksiat tersebut. Bukankah al-Qur’an telah mengatakan
… sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan perbuatan keji dan mungkar….    (QS 29:45)
Keempat, orang yang diterima salatnya ialah orang yang menyayangi orang-orang miskin. Kalau diterjemahkan dengan kalimat modern ialah orang yang mempunyai solidaritas social. Dia bukan hanya melakukan ruku’ dan sujud saja, tetapi dia juga memikirkan penderitaan sesamanya. Dia menyisihkan sebagian waktu dan rizkinya untuk membahagiakan orang lain.

Kalau dalam salat anda, anda sudah merasakan kebesaran Allah dan tidak takabur, dan kalau anda sudah tidak mengulangi perbuatan maksiat sesudah salat; dan kalau anda sudah mempunyai perhatian yang besar terhadap kesejateraan orang lain, maka Allah akan melindungi anda dengan jubah kebesaran-Nya Allah akan memberikan kepada anda kemulian dengan kemuliaan-Nya, dan akan membungkus anda dengan busana kebesaran-Nya. Di samping itu, Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjaga anda; dan para malaikat itu akan berkata sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an ; Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu mempreoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS 41:31). sumber: At-tanwir